lokasi : Yogyakarta
𝗣𝗔𝗗𝗔 kacamata eksistensi Karl Jasper, para peziarah kubur adalah para eksistensi yang membesuk situasi batas bernama kematian orang-orang terdekat. Mereka menyadari bahwa sebagai manusia eksistensi, bagaimanapun kuatnya ilmu yang dimiliki, ia tak mampu mencegah kematian orang-orang terdekat, bahkan kematian dirinya sekalipun. Maka mereka ini datang di depan transedensi dengan kesadaran reflektif berbasis ketuhanan.
Ingatan akan kuburan itu hakikatnya ada dalam jasad. Tak berfungsinya berbagai persendian raga, itu penanda kita dekat dengan kuburan. Maka mengenal jasad, itu seperti mengenal kubur sendiri.
Selain ngajari anak-anak silsilah dan agar nggak kepaten obor. Mereka harus mengerti bahwa kuburan itu hanya nisan, seperti prasasti, "tetenger". Tidak ada ikatan rohaniah, semua atribut baik pangkat, jabatan, nama besar, dan kedudukan itu akan ditinggalkan. Ulangi, akan ditinggalkan. Hanya jadi shelter bukan terminal akhir.