9809566

19

Feb

2015

BLORA MUSTIKA, CACANA JAYA KERTA BHUMI

  • Traveling
  • 405x dibaca
  • 0 Komentar

Menurut Wikipedia dan penuturan masyarakat Blora yang saya temui, kata “Blora” berasal dari kata “Belor”, yang artinya lumpur, kemudian berkembang menjadi “mbeloran” yang sekarang menjadi BLORA. Secara etimologi, nama Blora adalah paduan dua kata “Wai” dan “Lorah”, Wai artinya air, sedangkan Lorah artinya lembah, sehingga kata Wailorah dekat korelasinya dengan pengertian tanah rendah berair, atau tanah berlumpur. Dalam nomenklatur bahasa Jawa lazim dijumpai pertukaran huruf W dengan huruf B, namun tidak menyebabkan perubahan makna kata. Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata “Wailorah” berangsur-angsur menjadi “Bailorah”, “Balora” kemudian menjadi “Blora”

Saya pernah membaca buku “Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI” yang judul aslinya adalah “De Eerte Moslimse Vorstendommen op Java, Studiwen Over de Staatkundige Geschiedenis de 15 de en 16 de Eeuw”, terbitan Universitas Laiden di Belanda tahun 1974, karya H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud, yang mengisahkan bahwa daerah Blora di masa lalu disebut Mendang Kamulan, yang dalam mitos Wayang adalah negara yang diperintah oleh keturunan Batara Wisnu. Sedangkan dalam mitos Jawa sering disebut sebagai tempat asal keturunan raja-raja Jawa tertua.

Posisi administratif Blora di masa lalu tidak bisa dipisahkan dari efek Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755, yang terkenal dengan nama palihan negari, karena dengan perjanjian tersebut Mataram terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah Paku Buwana III, sedangkan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwana I. Di dalam Palihan Negari itu, Blora menjadi wilayah Kasunanan sebagai bagian dari daerah Mancanegara Timur, Kasunanan Surakarta. Akan tetapi Bupati Blora saat itu, Arya Wilatikta tidak setuju Blora masuk menjadi daerah Kasunanan, sehingga ia memilih mundur dari jabatannya.

Mendengar kata Blora juga tidak lepas dari kisah Samin Surosentiko, pada tahun 1882 seorang petani Blora yang melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda karena penerapan pajak yang sangat memberatkan bagi petani pemilik lahan yang kondang disebut “Gerakan Samin”. Gerakan ini aradikal, lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, tanpa senjata.

Blora, kota ini bnyk melahirkan tokoh terkenal macam Pramoedya Ananta Toer, Ali Moertopo, Mukti Ali, sampai Aria Penangsang. Saya terkesima pada saat ke Blora, daerah yang sebelah utaranya adalah kawasan perbukitan dari rangkaian pegunungan kapur utara, bagian selatan juga sebagai bagian dari rangkaian pegunungan Kendeng yang membentang dari timur Semarang sampai ke Lamongan. Senang Berkunjung ke Blora Mustika, Maju, Unggul Sehat, Tertib, Indah, Kontinyu, dan Aman... Cacana Jaya Kerta Bhumi, Kedamaian, Kejayaan, Kemakmuran Daerah! Maju terus kota Blora! (mi)

Tentang Penulis

Foto 2

Muhammad Ihwan

Muhammad Ihwan. Kelahiran Yogyakarta, tinggal di Gresik. Gemar membaca dan menulis, menyenangi marketing dan public relations. Pernah menjadi Humas, sehari-hari mengelola penjualan retail Petrokimia Gresik wilayah Luar Jawa-Bali.

Tambahkan Komentar

First Name*
Komentarmu*
Top 10 Negara Pengunjung:
Total Pengunjung: