lokasi : Makam Lempuyangan Danurejan Jogja
𝗧𝗘𝗥𝗧𝗔𝗪𝗔, senyuman, dan bahagia itu kadang adalah pasir, batu, dan adonan semen dari sebuah bendungan yang menyimpan derasnya air mata.
Kehilangan orang tua itu meninggalkan lubang yang tak akan ada penutup gantinya, karena dunia tak pernah sama setelah kita memasukkan jasad ayah dan ibu ke perut bumi. Ulangi, tidak akan pernah sama.
Disela-sela padatnya kedinasan, Alhamdulillah bisa meluangkan waktu untuk sowan Ayah dan Ibu. Ini makam keduanya, kebetulan dimakamkan di kompleks pemakaman yang sama di Lempuyangan Yogyakarta. Ibu duluan tahun 2012 di makamkan satu lahat dengan Eyang Puteri. Sedang Ayah di makamkan dalam Jeron Cempuri tahun 2021 kemarin. Angka kembar 2012 & 2021. 😇
Ingatan akan kuburan itu hakikatnya ada dalam jasad. Mulai tidak berfungsinya berbagai persendian raga, pengelihatan, dan lain-lain itu penanda kita dekat dengan kuburan. Maka mengenal jasad, itu seperti mengenal kubur sendiri. Jasad itu jasmani, 'jas' dan 'mani'. Jas itu raga, mani itu sumbu kehidupan awal. Kuburan itu hanya nisan, seperti prasasti, "tenger". Tidak ada ikatan rohaniah, semua atribut baik pangkat, jabatan, kuasa dan kedudukan itu hanya jadi shelter bukan terminal.