Kseniya Lashkul

18

Mei

2020

TERNYATA BUKAN MINAL AIDIN WAL FAIDZIN

"Ucapkanlah Dengan Ilmu.."

Singkat saja seperti itu komentar sahabat saya saat kami membahas kalimat "Minal aidin wal faidzin" pada sebuah iklan dan juga biasa diucapkan banyak orang saat menjelang atau saat Lebaran. Mungkin banyak juga diantara kita yang tidak tahu makna sesunguhnya dari kalimat tersebut dalam konteks merayakan Idul Fitri. Namun sebelum membahas kalimat Minal aidin wal faidzin, ada baiknya kita perhatikan beberapa dalil terkait yang membahas tentang ucapan tersebut, sebagai berikut :

“Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied : Taqabbalallahu minnaa wa minkum “Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah - Majmu Al-Fatawa 24/253).

Jubair bin Nufair, berkata :

“Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. (Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/446, Dalam 'Al Mahamiliyat' dengan Isnad yang Hasan)

Muhammad bin Ziyad, berkata :

“Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : "Taqabbalallahu minnaa wa minka” (Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” 2/259)

Imam Ahmad menyatakan bahwa ini adalah “Isnad hadits Abu Umamah yang Jayyid/Bagus. Beliau menambahkan :

“Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorang pun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” (Al Jauharun Naqi 3/320. Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan)

Nah, lalu kenapa Minal aidin wal faizin? Dikalangan masyarakat, media sosial, televisi, jutaan muslim di Indonesia sering mendengar kata ini digandengkan dengan kata 'Mohon maaf lahir batin' sehingga kurang lebih Begini:

“Minal Aidin wal Faidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin”,

Seakan akan (mungkin yang mengucapkan) menganggap bahwa Minal aidin wal faidzin Ini berarti mohon maaf lahir dan batin.

Bila kita lihat penerjemahan makna frase Minal aidin wal faizin dalam bahasa Arab, maka

Min, artinya “Termasuk”.

Al-aidin, artinya ”Orang-orang yang kembali”

Wa, artinya “dan”

Al-faidzin, artinya “ Menang”.

Jadi makna "Minal aidin wal faizin" jika dipaksakan diartikan dalam kai'dah tata bahasa Arab - Indonesia yang benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang”. Agak ngambang, kan?

Bila dua frasa itu diartikan secara menyeluruh dalam bahasa Indonesia yang benar, maka kalimatnya akan tersusun :

“TERMASUK DARI ORANG ORANG YANG KEMBALI SEBAGAI ORANG YANG MENANG - Mohon maaf lahir dan Batin”.

Sepertinya kurang tepat, karena jika demikian maksudnya jadi tidak Jelas. Do'a bukan (karena tidak lengkap), dan Salam juga bukan, saat kita artikan dari bahasa aslinya. Namun sah-sah saja jika memang kita tidak tahu atau sebatas Ikut ikutan dan tidak meniatkan bahwa mohon maaf lahir dan batin itu adalah arti dari Minal aidin wal faizin.

Bagaimana Seharusnya

Tentunya selain agar kita nggak ditertawakan orang, dan tidak malu-maluin saat kita bertemu dengan orang-orang berilmu, kita harus mengikuti apa yang Rasulullah contohkan. Ucapan yang disampaikan ketika menyambut hari Idul Fitri, sesuai teladan nabi Muhammad s.a.w adalah "Taqabbalallahu minna waminkum", kemudian menurut riwayat ucapan nabi ini ditambahkan oleh para Sahabat dengan kata-kata "Shiyamana wa Shiyamakum", yang artinya puasaku dan puasamu, sehingga kalimat lengkapnya menjadi "Taqabbalallahuminna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum" (Semoga Allah menerima amalan puasa saya dan Kamu).

Dari Riwayat tersebut, dan seperti keterangan-keterangan yang dipaparkan dari kata “Taqabbalallahu… sampai … shiyamakum”, tidak satu pun menyatakan ada istilah Minal aidin wal faidzin. Namun bila diniati untuk “Ingin mendoakan sesama Saudara seiman”, In sya Allah, tidak salah dan bahkan termasuk hal yang baik.

Adapun jika ingin menambahkan frasa Minal aidin wal faidzin dapat ditambahkan diakhir kalimat, agar secara harfiah serasi:

”Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum. Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin”

artinya :

“Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Puasa kami dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang.”

Ja’alanallaahu di sini berarti "Semoga Allah menjadikan kita".. sebagai tambahan untuk melengkapi, frasa Minal aidin wal faidzin yang mengambang tadi.

Sekedar tambahan, bagaimana jika kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa Arab yang benar?

Salah satunya adalah ;

“Asalukal afwan zahiran wa bathinan”.

atau

"Kullu aam wa antum bikhair",

yang berarti semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan baik-baik, dan, sekali lagi Bukan Minal aidin wal faidzin karena kata ini bukan berarti Kalimat permintaan maaf. Mungkin hanya sebuah do'a yang belum utuh.

Demikian, Mohon koreksinya jika saya salah. Akhir kata, bersamaan dengan ini Saya pribadi, beserta keluarga ingin mengucapkan,

Selamat menunaikan puasa, dan menyongsong Hari Raya Idul Fitri ;

”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallaahu minal aidin wal faidzin", Semoga Allah menerima amal-amal kita, dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang.

Dan mari kita memohon, kepada Allah s.w.t; semoga Kita dianugerahi umur untuk menikmati Ramadhan tahun-tahun berikutnya beriring dengan rizki dan keberkahannya. Aamiin aamiin yaa rabbal 'alamiin.



Sumber tulisan : disadur dari berbagai sumber

Sumber foto cover : Kseniya Lashkul

When my arms can’t reach people close to my heart, I always hug them with prayers. May Allah’s peace be with you. A very Happy Eid Mubarak to you.

Tentang Penulis

Foto 2

Muhammad Ihwan

Muhammad Ihwan. Kelahiran Yogyakarta, tinggal di Gresik. Gemar membaca dan menulis, menyenangi marketing dan public relations. Sehari-hari sebagai Humas Petrokimia Gresik

Tambahkan Komentar

First Name*
Komentarmu*
Top 10 Negara Pengunjung:
Total Pengunjung: