Whats App Image 2020 04 28 at 08 56 36

28

Apr

2020

BIOINSEKTISIDA SlNPV UNTUK MENGENDALIKAN URAT GRAYAK MENDUKUNG SWASEMBADA KEDELAI

  • Resensi
  • Iptek
  • 286x dibaca
  • 4 Komentar
Jumlah Halaman 54
ISBN 978-602-8218-68-9
Bahasa Indonesia
PEnulis Muhammad Arifin
penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2010)
dimensi 14 x 20.5 cm
Published At 19/09/2020 22.24

SANGAT MEMBANGGAKAN. Ini adalah naskah Orasi Pengukuhan ayah saya, Muhammad Arifin sebagai Profesor Riset Bidang Entomologi (Hama dan Penyakit Tanaman) Litbang Kementerian Pertanian pada bulan Ramadhan, tanggal 6 September 2010 di Bogor, dengan judul; “Bioinsektisida SlNPV untuk Mengendalikan Ulat Grayak Mendukung Swasembada Kedelai”.

Dalam orasinya Beliau banyak menyoroti pemakaian bioinsektisida Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus (SlNPV) untuk pengendalian ulat grayak untuk mencapai swasembada kedelai 2014 dengan target 2.7 juta ton, sementara produksi kedelai tahun 2009 baru mencapai 1 juta ton. Arifin menengarai ada 4 permasalahan kedelai nasional, yaitu; meningkatnya impor, tingginya kesenjangan produktivitas tingkat petani dengan potensi genetik kedelai akibat belum menggunakan varitas toleran hama, pengurangan areal tanam kedelai akibat pemakaian lahan untuk jagung serta harga kompetitif kedelai nasional semakin terpuruk akibat dibanjiri produk impor dengan harga relatif murah.

Namun kita optimis akan dapat meningkatkan produksi kedelai karena petani mulai bergairah menanam kedelai, adanya dukungan pemerintah melalui perluasan lahan hingga 2 juta ha tahun 2014 dengan penyediaan pupuk, tersedianya teknologi tepat guna dengan 64 varitas unggul baru dengan produksi 2 - 2,5 ton/ha serta tersedianya lahan potensial areal tanam. Dari 111 hama, ulat grayak dinyatakan sebagai penting karena selain dapat menurunkan produksi hingga 80% (tanpa kendali dapat mengakibatkan puso) luas serangan ulat ini telah mencapai 1.316 - 2.902 ha pada periode 2002 - 2006.

Dengan insektisida berdosis tinggi cenderung berdampak negatif terhadap lingkungan, sehingga diarahkan menggunakan virus patogen yaitu SlNPV hasil invensi Arifin tahun 1984. Arifin mengemukakan ada 4 keuntungan pemakaian SlNPV yaitu memiliki inang spesifik yaitu ulat grayak, tidak membahayakan organisme bukan sasaran dan lingkungan, dapat mengatasi masalah resistensi ulat grayak terhadap insektisida serta kompatibel dengan komponen pengendalian lainnya. Slnpv dengan nilai LC50 (konsentrasi yang dapat membunuh 50% populasi serangga) untuk ulat muda /instar III dalam dua hari, instar IV-VI dalam 4 - 9 hari.

Daya bunuh yang relatif lambat dapat dipercepat dengan aplikasi SlNPV saat ulat muda, menggunakan SlNPV yang lebih virulen, mengkombinasikan SlNPV dengan insektisida kimia atau biologis lain, serta mengembangkan SlNPV rekombinan dengan gen spesifik bersifat toksik kedalam genom Slnpv. Dikatakan bahwa SlNPV dapat diproduksi secara in vivo dan in vitro, diarahkan untuk lebih virulen, tahan sinar UV dan daya simpan diatas 1 tahun.

Diakhir orasi diharapkan dukungan investasi dan sosialisasi khususnya kemitraan dengan pihak swasta dalam produksi secara komersial serta peningkatan peran sekolah lapang PTT kedelai dan penekanan pada praktek PHT mutlak diperlukan.

Biodata #

Muhammad Arifin lahir di Yogyakarta, 11 Mei 1950. Sarjana Biologi (Drs) UGM (1977), Sarjana Utama (SU) Ilmu Hama Tumbuhan, Program Pascasarjana UGM (1983), dan Doktor (Dr) Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana UGM (1993). Mengikuti pelatihan Insect Pathogens di National Agriculture Research Center, Tsukuba, Japan (1987) dan Radiation and Isotopes in Entomology di University of Florida, USA (1992). Sejak 1979 bekerja sebagai peneliti pada Badan Litbang Pertanian. Pangkat terakhir Pembina Utama IV/e (2010), jabatan fungsional terakhir Ahli Peneliti Utama Bidang Hama Tanaman (2001), dan sebagai Profesor Riset Bidang Entomologi (2010). Ada 108 karya ilmiah yang dihasilkan; 45 buah sebagai penulis tunggal, 37 buah sebagai penulis utama, dan 26 buah sebagai penulis pendamping. Menjabat ketua PEI Cabang Bogor (1997-2003), Pengurus Pusat PEI (2003-2007).

Berita sejenis dapat ditemukan di :

1. Profesor Dr. Drs. Muhammad Arifin, M.S. http://www.litbang.pertanian.g...

2. Badan Litbang Pertanian Kukuhkan Tiga Profesor Riset Baru di Bulan Penuh Berkah http://lipi.go.id/berita/badan...

3. Bioinsektisida SlNPV untuk Mengendalikan Ulat Grayak Mendukung Swasembada Kedelai http://muhammadarifindrprof.bl...

4. The Use of SlNPV as A Biological Agent to Control Cutworm on Soybean http://muhammadarifindrprof.bl...

5. Ayah juga menuliskan seluruh hasil penelitiannya ke dalam blog https://www.kompasiana.com/muh... dan di http://muhammadarifindrprof.bl... dapat di download dan di copy secara gratis. Beliau berharap tulisan-tulisannya dapat bermanfaat bagi petani Indonesia.

Tentang Penulis

Foto 2

Muhammad Ihwan

Muhammad Ihwan. Kelahiran Yogyakarta, tinggal di Gresik. Gemar membaca dan menulis, menyenangi marketing dan public relations. Pernah menjadi Humas, sehari-hari mengelola penjualan retail Petrokimia Gresik wilayah Luar Jawa-Bali.

Tambahkan Komentar

First Name*
Komentarmu*

Awesome Image

Juddy Nugroho

Permasalahan utama negara kita, tdk menghargai karya luar biasa anak bangsa dng semestinya. Hasil penelitian tdk teraplikasi kpd masyarakat pertanian dng seharusnya dengan dukungan pemerintah yg penuh dan fokus. Swasembada menjadi sekedar retorika dan konsumsi politis semata. Negara agraris yg mengandalkan importasi, sungguh ironis. Ilmuwan sebagai aset bangsa, hanya sekedar bertumbuh dan bertumbuh, tanpa ada sentuhan politik pertanian yg serius untuk mendorong bangsa kita benar2 sebagai negara agraris.

Muhammad Ihwan

Mungkin itu sebabnya banyak orang pintar yang malah senang menetap di luar negeri, karena disana merasa dihargai dan didukung penuh dalam pengembangan risetnya. Saya yakin, ilmuan indonesia nggak kalah dengan yang dari luar.

Awesome Image

Djatmiko Prijambodo

Buah jatuh ga jauh dari pohonnya,sukses pak Ihwan

Muhammad Ihwan

Siap, terima kasih pak Djatmiko.. Aamiin yra.

Top 10 Negara Pengunjung:
Total Pengunjung: