Branimir balogovic

16

Okt

2015

JANJI ADALAH HUTANG

Ada pesan mendiang Ibu semasa hidup pada saya, yang hingga kini selalu saya ingat, bahwa “janji adalah hutang, kalau berjanji tunaikanlah”. Hal tersebut saya percayai juga menjadi dasar dalam setiap aktivitas bisnis dan pekerjaan kita sehari-hari.

Saya ingin mengutip Hermawan Kartajaya, dalam marketing, secara umum orang berpikir bahwa service adalah “senyum”, “sapa”, “sopan”, “santun”, atau “keramahan”, ada juga yang yang berpikir bahwa service adalah seperti after sales service yang familiar menjadi istilah dalam dunia marketing. Kalau sudah begini, arti service itu menjadi tereduksi. Menurut saya, bagian terpenting dalam service justru adalah reliability. Tunaikan apa yang Engkau janjikan!. Ini cocok dengan konsep Ibu saya.

Saya sering berkelakar pada teman-teman, kalau ingin belajar service, gampangnya pergilah ke cafe ternama. Di cafe, katakanlah walau untuk sekadar ngopi kita akan diperlakukan dengan sangat ramah. Senyum dan sapa jadi standar baku disana. Tapi, selain itu, yang tidak kalah penting adalah kita akan selalu diberi apa yang mereka janjikan. Tidak akan pernah dijumpai pesan teh keluar kopi. Atau, dijanjikan kopi nasgitel yang datang malah kopi tawar. Hal-hal sederhana seperti itulah yang dapat kita gunakan sebagai contoh dimana pun kita bekerja.

Begitu juga dalam bisnis dan korporasi, janji seorang CEO harus didukung oleh seluruh karyawan. Kalau tidak, pernyataan janji tersebut akan menjadi blunder bisnis. Jangan berjanji kalau kira-kira tidak bisa menepati. Tapi, kalau sudah terlanjur berjanji, ya harus dipenuhi!. Kalau sekiranya akan sulit membayar, jangan berutang. Tapi, kalau berhutang, bayarlah. Sebab, nama baik jauh lebih penting dan berharga daripada biaya yang harus dikeluarkan. Artinya? Berusahalah selalu reliable atau menunaikan janji. Sebab, cost untuk memuaskan orang yang marah/kecewa bisa jadi lebih mahal.

Dengan memenuhi janji setidaknya kita akan memperoleh 3 (tiga) manfaat penting dalam bisnis kita. Pertama, konsumen akan merasa mendapat jaminan. Kedua, karyawan lebih committed pada janji. Ketiga, perusahaan akan lebih kompetitif, tidak melulu kompetitif pada produk dan harga. Mari tepati janji. (mi)

Sumber foto : Branimir Balogović

Tentang Penulis

Foto 2

Muhammad Ihwan

Muhammad Ihwan. Kelahiran Yogyakarta, tinggal di Gresik. Gemar membaca dan menulis, menyenangi marketing dan public relations. Sehari-hari sebagai Humas Petrokimia Gresik

Tambahkan Komentar

First Name*
Komentarmu*
Top 10 Negara Pengunjung:
Total Pengunjung: