Faith

25

Mar

2015

IMAN, KONSEP YANG DINAMIS

Pembedaaan Islam dan Iman disandarkan pada masih adanya kemungkinan orang yang mengaku Islam (bersyahadat) untuk berbuat perbuatan-perbuatan yang menyamping dari ajaran Islam, melakukan sesuatu dengan tidak berangkat dari ketulusan dan kehendak pribadinya, yang dalam kamus Islam disebut golongan orang-orang fasiq, munafik dan dzalim.

Secara terminologi bahasa, iman artinya percaya. Tetapi devinisi iman menurut terminologi bahasa tersebut masih belum menyentuh definisi iman secara substansial. Kata iman berasal dari akar kata yang sama dengan aman dan amanah. Dari sini kita bisa mengkomparasikan bahwa iman akan melahirkan rasa aman dan memiliki amanah. Jadi jelaslah bahwa iman bukan hanya sekedar percaya. Iblis pun sesungguhnya percaya kepada Allah, malahan mereka lebih dahulu mengenal Allah, tetapi Iblis tidak siap menerima konsekuensi berikutnya dari rasa percaya tersebut, sehingga melakukan pembangkangan terhadap apa yang diperintahlkan Allah. Dari wilayah ini maka hakikat percaya bukanlah hanya berhenti pada pengakuan akan keberadaan Allah, tetapi yang iman adalah kerelaan dalam menerima konsekuensi-konsekuensi logis dari sikap mempercayai.

Seseorang dikatakan beriman setelah dia memenuhi kualifikasi-kualifikasi yang ditentukan. Pertama, pengakuan lisan tentang keberadaan Allah dan kerasulan Muhammad (syahadat). Kedua, pembenaran dalam hati. Ketiga, pembuktian dengan amal perbuatan. Ketiga kualifikasi ini harus berjalan sinergis dan integratif. Sedangkan konsekuensi-konsekuensi logis darinya antara lain adalah kesediaan untuk tunduk pada perintah dan menjauhi larangan. Percaya akan melahirkan tata nilai, maka iman pada yang benar akan melahirkan tata nilai yang benar pula.

Karena pengertian iman pada kata percaya saja tanpa konsekuensi nyata dapat menjadi tidak bermakna, oleh karenanya kata percaya disini harus diberikan imbuhan menjadi “mempercayai Tuhan” karena dengan mempercayai Tuhan, terkandung pengertian sikap atau pandangan hidup yang penuh kepasrahan kepadaNya.

Sehingga kata iman harus dimaknai secara dinamis karena berbicara tentang iman adalah juga berbicara tentang hati. Dalam bahasa arab, hati adalaha qalb (kalbu) yang artinya sesuatu yang berubah-ubah. Sehingga tidaklah mungkin kita membuat standarisasi iman sekali jadi dan untuk selama-lamanya, iman harus ditumbuhkan dalam diri kita. Bermula dari yang kecil kemudian berkembang menuju sempurna. Ini berarti iman juga memerlukan pengorbanan. Tugas manusia terhadap iman sesungguhnya adalah menginternalisasikannya untuk kemudian diamalkan.

Bila secara etimologi, kata iman dan aman berasal dari akar kata yang sama, sehingga iman akan melahirkan rasa aman. Rasa aman manusia itu lahir dari keyakinannya bahwa ia benar-benar dibawah kasih Tuhan. Dari hal ini dapat kita ketahui bahwa sikap iman sesungguhnya akan menumbuhkan rasa aman. Keyakinan bahwa iman akan melahirkan aman akan memiliki dampak luas. Antara lain kita akan menjadi manusia yang penuh percaya diri. Untuk dapat menghayati pesan-pesan Tuhan, maka percaya diri adalah kunci utama yang terlebih dahulu dilalui melalui proses iman. (mi)

SUmber foto : joydigitalmag.com

Tentang Penulis

Foto 2

Muhammad Ihwan

Muhammad Ihwan. Kelahiran Yogyakarta, tinggal di Gresik. Gemar membaca dan menulis, menyenangi marketing dan public relations. Pernah menjadi Humas, sehari-hari mengelola penjualan retail Petrokimia Gresik wilayah Luar Jawa-Bali.

Tambahkan Komentar

First Name*
Komentarmu*
Top 10 Negara Pengunjung:
Total Pengunjung: